Purdue Jadi Kampus AS Pertama Pasang TPU Google; Kapasitas AI Naik 30 Persen

Purdue University menjadi institusi akademik pertama di Amerika Serikat yang menyediakan Tensor Processing Unit (TPU) Google untuk riset dosen dan mahasiswa lewat program komputasi kampusnya. Kerja sama dengan Google Public Sector, Cirrascale, dan DDN itu diumumkan pada 29 Oktober 2026 dan akan menaikkan kapasitas komputasi AI Purdue sebesar 30 persen, dengan pengguna pertama mulai Januari 2027. Langkah ini menunjukkan chip AI buatan Google mulai keluar dari pusat data Google dan masuk ke infrastruktur milik kampus.
Apa yang Diumumkan Purdue dan Google pada 29 Oktober 2026?
Purdue mengumumkan bahwa TPU Google akan dipasang di pusat data kampusnya sendiri, bukan disewa dari cloud. Menurut Purdue (2026), tambahan akselerator ini menaikkan kapasitas AI universitas sebesar 30 persen. Sistemnya ditempatkan di pusat data Mathematical Sciences Building yang baru direnovasi dan diperluas, dengan peneliti pertama mulai memakainya pada Januari 2027.
Pengumuman disampaikan di AI Impact: From Possible to Proven, konferensi AI tahunan ketiga yang disponsori bersama oleh Purdue dan Google. Tema tahun ini adalah physical AI, yaitu AI yang membantu mesin dan sistem berinteraksi dengan dunia fisik. Contoh penerapannya mencakup kendaraan otonom, robotika, computer vision, dan manufaktur maju, bidang yang selama ini menjadi kekuatan riset teknik Purdue.
Di atas panggung, kerja sama ini dipresentasikan oleh Preston Smith, direktur eksekutif Rosen Center for Advanced Computing Purdue, bersama Adam Deer, research and education executive lead Google Public Sector. Tiga mitra industri terlibat dalam integrasinya. Google Public Sector menyediakan TPU, Cirrascale berperan sebagai penyedia cloud AI privat, dan DDN mengurus platform penyimpanan data yang sudah lama dipakai Purdue.
Purdue tidak mengumumkan generasi TPU yang dipasang, jumlah chip, maupun nilai investasinya. Yang ditegaskan adalah posisinya sebagai kampus AS pertama yang menawarkan perangkat keras AI khusus buatan Google ini kepada peneliti lewat program komputasi kampus, sementara kendali atas data, keamanan, dan tata kelola tetap berada di tangan universitas.
Kenapa Purdue Memilih TPU di Kampus, Bukan Cloud Saja?
Purdue ingin performa chip AI kelas atas tanpa melepas kendali atas data riset. Dengan TPU yang terpasang di infrastruktur sendiri, universitas tetap memegang data, keamanan, dan tata kelola, sambil memasukkan akselerator baru ke program community cluster yang sudah berjalan bertahun-tahun. Model bisnis layanan komputasinya pun tidak perlu dirombak dari awal.
"Purdue is at the forefront of physical AI, and having leading accelerators on our own infrastructure is a real advantage for our students and faculty," kata Preston Smith, direktur eksekutif Rosen Center for Advanced Computing Purdue. Menurutnya, integrasi TPU ke program community cluster memberi performa yang dibutuhkan untuk pekerjaan training dan inference yang ambisius, sambil tetap berjalan di dalam model bisnis yang sudah ada.
Smith juga mengaitkan investasi ini dengan hasil riset jangka panjang. Ia menyebut riset menunjukkan bahwa investasi pada sumber daya komputasi kelas atas seperti superkomputer community cluster Purdue sangat berkaitan dengan capaian riset di masa depan. Bagi mahasiswa, akses langsung ke perangkat ini dianggap sebagai bekal keterampilan AI yang membuat lulusan lebih menonjol di pasar kerja.
Selama ini Purdue banyak bersandar pada GPU. Menurut catatan DDN, Gautschi, salah satu klaster riset Purdue, adalah NVIDIA H100 SuperPOD untuk simulasi dan beban kerja AI. Kehadiran TPU berarti peneliti Purdue bisa memilih dua jenis akselerator berbeda di kampus yang sama, sesuai kebutuhan model yang mereka latih atau jalankan.
Bagaimana Kerja Sama Ini Dibangun Sejak Januari 2026?
Pemasangan TPU ini adalah tindak lanjut kemitraan strategis Purdue dan Google Public Sector yang diumumkan pada 12 Januari 2026. Kemitraan multitahun itu sudah mencantumkan akses TPU, komitmen lima tahun pada program Google Partnership for Accelerated Research (GPAR), dan pembangunan Google AI Hub di gedung Hall of Data Science and AI.
"This partnership with Google is a paradigm shift in academic-industry collaboration," kata Mung Chiang, Presiden Purdue, saat kemitraan itu diumumkan. Karen Dahut, CEO Google Public Sector, waktu itu menyebut penyediaan infrastruktur AI Google Cloud dan TPU akan membantu peneliti Purdue menangani tantangan global dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Kemitraan tersebut juga terkait dengan kewajiban kompetensi AI bagi semua mahasiswa sarjana di kampus utama, yang disetujui Dewan Pengawas Purdue pada 12 Desember 2025. Purdue sendiri menyebut dirinya universitas riset dengan lebih dari 111.000 mahasiswa di berbagai kampus, termasuk lebih dari 57.000 di kampus utama West Lafayette dan Indianapolis.
Mitra infrastrukturnya pun bukan pemain baru di Purdue. Menurut DDN, sejak 2005 Purdue sudah mengandalkan lebih dari 50 petabyte platform data DDN untuk riset nanoteknologi hingga katalis atom. Cirrascale, di sisi lain, mempromosikan kerja samanya dengan Google Public Sector untuk menyediakan infrastruktur AI aman bagi lembaga riset dan universitas, termasuk menjalankan Gemini di balik firewall pelanggan.
Dampaknya bagi Pasar Chip AI dan Kampus di Indonesia
Kesepakatan ini memberi sinyal bahwa Google mulai menawarkan TPU sebagai perangkat yang bisa berada di infrastruktur pelanggan, bersaing langsung dengan GPU Nvidia di kampus dan lembaga riset. Bagi institusi yang sensitif soal data, model seperti ini menawarkan jalan tengah antara menyewa cloud publik dan membangun klaster GPU sendiri dari nol.
Ekosistem perangkat lunak TPU juga makin ramah bagi peneliti. Menurut Google Cloud (2026), TPU kini mendukung PyTorch dan JAX secara native serta mesin inference vLLM. Generasi TPU 8t dirancang untuk 9.600 chip dalam satu superpod, sementara TPU 8i diklaim memberi peningkatan performa per dolar 80 persen untuk inference model MoE dibanding generasi sebelumnya.
Bagi kampus dan lembaga riset di Indonesia, model Purdue layak dicermati sebagai pola kemitraan. Universitas tidak harus memilih antara mengirim data riset ke cloud luar negeri atau membeli klaster GPU yang mahal. Kerja sama dengan penyedia chip, integrator lokal, dan penyedia penyimpanan bisa membuka akses komputasi AI sambil menjaga kendali data tetap di dalam negeri.
Bagi perusahaan Indonesia, pelajarannya serupa. Pilihan akselerator AI kini tidak lagi identik dengan satu vendor, dan kemampuan menjalankan model di infrastruktur sendiri makin realistis. Sebelum memutuskan, perusahaan perlu menghitung beban kerja training dan inference, kesiapan tim dengan PyTorch atau JAX, serta kebutuhan kepatuhan data, bukan sekadar mengikuti merek chip yang paling populer.
(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)
⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.
🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.
Berita Terkait Google
⚡ Google Buka Kode TorchTPU; PyTorch Kini Jalan Native di Chip TPU
☁️ Google Cloud Melonjak 103 Persen; Pendapatan Alphabet Tembus $127,6 Miliar
🚀 FuriosaAI Raih $620 Juta Seri D; Valuasi Chip Inferensi Tembus $2,9 Miliar
💡 Mapel Koding dan AI di Sekolah: Isi Permendikdasmen 13/2025 dan Peluang bagi Perusahaan
Sumber dan Referensi
[1] Purdue is first U.S. university to deploy Google TPU AI infrastructure - Purdue University
[3] Purdue, Google team up to expand AI education and research - The Purdue Exponent
[4] Purdue University Collaboration with DDN - DDN
[5] Tensor Processing Units (TPUs) - Google Cloud
[6] Cirrascale, Private AI Cloud for Training and Inference - Cirrascale
