Eka Robotics Raih $150 Juta; Robot Pemungut Benda Lampaui Kecepatan Manusia

Eka Robotics Raih $150 Juta; Robot Pemungut Benda Lampaui Kecepatan Manusia

Eka Robotics mengumumkan pendanaan Seri A senilai 150 juta dolar AS yang dipimpin Andreessen Horowitz dan F-Prime, menempatkan valuasi perusahaan di angka 1,45 miliar dolar AS. Pengumuman pada 20 Oktober 2026 itu menyorot model vision-force-action yang mengandalkan sensor gaya, bukan tiruan gerakan manusia. Kabar ini penting karena kemampuan menangani benda secara cekatan selama ini jadi penghalang utama masuknya robot ke lini produksi yang berubah-ubah.

Berapa Dana yang Dikumpulkan Eka Robotics dan Siapa Investornya?

Eka Robotics mengumpulkan 150 juta dolar AS pada putaran Seri A yang dipimpin Andreessen Horowitz dan F-Prime, dana ventura yang berafiliasi dengan FMR LLC, induk Fidelity Investments. Valuasi perusahaan setelah pendanaan mencapai 1,45 miliar dolar AS, menurut pengumuman resmi Eka Robotics, 2026.

Investor lama Obvious Ventures dan E14 Fund ikut menambah porsi di putaran ini. Nama lain yang masuk daftar adalah MFV Partners, Bison Ventures, Glasswing Ventures, Samsung Next, serta sejumlah korporasi Fortune 500 yang tidak disebutkan namanya. Sebelumnya perusahaan menutup pendanaan awal sebesar 11 juta dolar AS pada Mei 2025.

Perusahaan didirikan Pulkit Agrawal, profesor di Massachusetts Institute of Technology, bersama Tuomas Haarnoja, mantan peneliti Google DeepMind. Keduanya bertemu saat menempuh studi pascasarjana di University of California, Berkeley, dan sama-sama berlatar riset reinforcement learning untuk kendali robot.

Dana segar itu disebut akan dipakai untuk memperbesar skala model dan mempercepat penempatan robot di lokasi pelanggan. Eka menyatakan fokus awalnya pada dexterous manipulation, yaitu kemampuan tangan robot menangani benda dengan cekatan, mulai dari mengemas buah lunak sampai merakit rak server berisi GPU.

Apa Itu Model Vision-Force-Action yang Dipakai Eka?

Vision-force-action adalah model yang menghubungkan penglihatan, gaya sentuh, dan tindakan robot. Pendekatan ini berbeda dari model vision-language-action yang mendominasi riset robotika, karena masukan utamanya bukan perintah bahasa melainkan rasa tekanan dari sensor di jari robot saat menyentuh benda.

Kamera hanya memberi tahu robot di mana benda berada dan kira-kira bentuknya seperti apa. Begitu jari menyentuh permukaan, yang menentukan berhasil atau tidaknya genggaman adalah seberapa kuat tekanan diberikan dan kapan tekanan itu harus dikurangi. Eka merancang tangan robot dengan jumlah sensor gaya lebih banyak supaya robot bisa bereaksi terhadap kontak.

Pelatihannya tidak memakai rekaman gerakan manusia. Eka menjalankan simulasi fisika dalam jumlah besar lalu melatih model dengan reinforcement learning di dalamnya. Perusahaan mengklaim metode itu sanggup menghasilkan ribuan jam pengalaman robot hanya dalam hitungan menit, dengan variasi benda, lingkungan, dan kondisi fisik yang berbeda-beda.

Eka menyebut pendekatan ini mengikuti jejak AlphaZero, yang mencapai performa di atas manusia pada catur dan Go tanpa memakai data permainan manusia sama sekali. Hambatan klasik metode simulasi adalah jurang sim-to-real, yaitu selisih perilaku antara dunia simulasi dan dunia nyata, dan perusahaan mengklaim jurang itu mulai menyempit untuk tugas yang penuh kontak fisik.

Seberapa Cepat Robot Eka Dibanding Pekerja Manusia?

Robot Eka disebut mampu memindahkan sekitar 1.500 benda per jam, kira-kira dua setengah kali lipat dari rujukan pekerja manusia yang berada di kisaran 600 operasi per jam. Angka itu berlaku untuk benda yang berada di luar data pelatihan, menurut keterangan Eka Robotics, 2026.

Tingkat keberhasilan pengambilan diklaim berada di atas 95 persen untuk benda sampai bobot satu kilogram. Robot yang sama juga diperlihatkan memasang bohlam lampu dan menyisipkan kabel, dua tugas yang menuntut ketepatan di tingkat kontak dan selama ini sulit diselesaikan lengan industri biasa tanpa penyetelan ulang.

Dari sisi perangkat keras, Agrawal menyebut gripper buatan Eka berharga di bawah 1.000 dolar AS dan punya umur pakai 5 juta siklus kerja. Target perusahaan adalah 20 juta siklus, ambang yang jadi standar lengan industri konvensional. Klaim performa ini belum diverifikasi pihak independen di luar laboratorium dan lokasi uji coba.

"Model Vision-Force-Action milik Eka adalah pendekatan pertama yang saya lihat benar-benar menyelesaikan masalah manipulasi dengan generalitas dan throughput yang dibutuhkan untuk penempatan di lapangan," kata Raghu Raghuram, General Partner Andreessen Horowitz, dalam keterangan resmi Eka Robotics.

Apa Dampaknya bagi Industri dan Perusahaan di Indonesia?

Dampak terdekatnya ada pada ekonomi lini produksi. Kalau satu lengan robot bisa menangani ragam barang tanpa pelatihan ulang, biaya integrasi yang selama ini jadi beban terbesar proyek otomasi bisa turun, dan pabrik tidak perlu lagi merancang jalur khusus untuk tiap jenis produk.

Eka menyatakan sedang menjalankan uji coba tertutup dengan sejumlah pelanggan industri, dengan dua fokus awal yaitu memilih, menata, dan menempatkan barang, serta penanganan kabel. Perusahaan tidak menyebutkan nama pelanggan maupun jumlah unit yang sudah dipasang, sehingga skala penerapan nyatanya belum bisa dinilai dari luar.

Kris Hauser, profesor di University of Illinois Urbana-Champaign, menilai demo Eka punya daya pikat karena robot bisa menyesuaikan diri pada banyak jenis benda tanpa dilatih ulang. Ia juga menandai dua pekerjaan rumah yang belum terjawab, yakni ketahanan bekerja nonstop di jalur perakitan selama setahun penuh dan kemampuan menggeneralisasi ke tugas industri yang lebih rumit.

Bagi perusahaan di Indonesia, terutama di manufaktur elektronik, makanan dan minuman, serta logistik gudang, kabar ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal arah daripada pemicu belanja sekarang. Teknologinya masih di tahap uji coba terbatas dan harga sistem lengkapnya belum diumumkan. Langkah yang masuk akal sekarang adalah memetakan tugas mana di lini produksi yang paling banyak memakan tenaga manusia untuk pekerjaan berulang, lengkap dengan data volume dan tingkat kesalahannya, supaya perhitungan untung ruginya siap ketika teknologi ini benar-benar masuk pasar.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.

🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.


Berita Terkait Robotika AI

🤖 FieldAI Kumpulkan Dana Rp6,4 Triliun untuk "Otak Universal" Robot

🚀 SoftBank Beli ABB Robotics $5,4 Miliar

⚡ UBTECH Kirim Ratusan Robot Humanoid Walker S2 ke Pabrik China

🧠 Nvidia Luncurkan Model AI Cosmos untuk Revolusi Robotika Masa Depan


Sumber dan Referensi

[1] Eka Robotics Raises $150M to Build Superhuman Intelligence for the Physical World - Eka Robotics

[2] Eka is worth $1.45 billion thanks to a physical AI model that has experts raving - TechCrunch

[3] Eka Robotics - The Era of Superhuman Robotics is at Hand

[4] When Robots Have Their ChatGPT Moment, Remember These Pincers - WIRED

[5] Eka Robotics raises $150M to teach robots dexterous work through touch - RuntimeWire