Blok AI AS dan China Makin Tajam; Indonesia Ingin Ikut Keduanya

Blok AI AS dan China Makin Tajam; Indonesia Ingin Ikut Keduanya

Persaingan Amerika Serikat dan China kini memecah dunia ke dalam dua blok kecerdasan buatan, yaitu Pax Silica yang dipimpin Washington dan World AI Cooperation Organization (WAICO) yang digagas Beijing. Laporan Associated Press pada 25 Oktober 2026 menunjukkan makin banyak negara terjepit di tengah, dua hari setelah Paraguay menjadi penanda tangan ke-26 Pax Silica. Indonesia, anggota pendiri WAICO, menyatakan ingin tetap bisa bekerja sama dengan kedua kubu.

Apa Itu Pax Silica dan WAICO?

Pax Silica adalah inisiatif Departemen Luar Negeri AS untuk mengamankan rantai pasok AI, chip, mineral kritis, dan energi bersama mitra tepercaya. WAICO adalah organisasi kerja sama AI yang diluncurkan China di Shanghai pada Juli 2026 dengan 29 negara pendiri. Keduanya menawarkan akses teknologi, investasi, dan standar AI yang berbeda.

Menurut lembar fakta Departemen Luar Negeri AS tertanggal 26 Juni 2026, Pax Silica diluncurkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Ekonomi Jacob Helberg pada Desember 2025. Dalam KTT kedua bulan Juni, sepuluh mitra baru bergabung, antara lain Argentina, Jerman, Belanda, Uni Eropa, dan Kazakhstan, sehingga jumlah penanda tangan menjadi 24. Hampir tiga lusin negara juga meneken Joint Statement on AI Opportunity.

Pada 23 Oktober 2026, Paraguay menjadi penanda tangan ke-26. Menteri Luar Negeri Paraguay Ramírez meneken deklarasi di Washington bersama Helberg. Kedua negara sepakat memanfaatkan mineral kritis dan pembangkit listrik tenaga air Paraguay untuk membangun infrastruktur yang oleh Washington disebut "super intelligence" di kawasan Amerika.

Di sisi lain, CGTN dan ANTARA melaporkan 29 negara meneken pembentukan WAICO di Shanghai pada pertengahan Juli 2026, bersamaan dengan World Artificial Intelligence Conference. Anggota pendirinya mencakup China, Rusia, Pakistan, Laos, Kazakhstan, dan Indonesia. Beijing menyebut WAICO terbuka dan inklusif, serta menjadi wadah untuk ikut menyusun standar AI regional dan global.

Kenapa Negara Seperti Kazakhstan Terjepit di Tengah?

Kazakhstan menjadi contoh paling jelas negara yang ingin berada di dua blok sekaligus. Menurut Associated Press (2026), negara berpenduduk sekitar 21 juta jiwa itu bergabung ke Pax Silica pada Juni 2026, lalu tiga minggu kemudian menjadi anggota pendiri WAICO di Shanghai, sementara Washington terus menekan mitranya untuk memilih kubu.

Menteri AI Kazakhstan Zhaslan Madiyev berkunjung ke Washington untuk bergabung dengan Pax Silica. Pada tahun yang sama, Kazakhstan meneken kesepakatan investasi senilai hingga 10 miliar dolar AS dengan Nvidia untuk membangun kawasan pusat data. Namun menurut pejabat setempat, investasi langsung China di Kazakhstan juga mencapai rekor 2,8 miliar dolar AS pada 2025.

"Semua orang sedang melakukan lindung nilai," kata Dana Masalimova, mantan diplomat Kazakhstan dan peneliti di Davis Center Universitas Harvard, kepada AP. Ia menambahkan bahwa negaranya tidak menginginkan pilihan biner antara Washington dan Beijing.

Tekanan dari AS sudah terlihat sejak Agustus 2026. The Decoder, mengutip Reuters, melaporkan Departemen Luar Negeri AS menyiapkan surat yang meminta mitra memilih kubu, dengan kalimat dalam draf "To be part of everything is to be part of nothing." Negara yang bergabung dengan inisiatif AI China disebut bisa tersingkir dari koalisi Pax Silica.

Strategi China Merangkul Negara Berkembang

China menarik negara berkembang lewat pendanaan dan model AI open source yang murah. Data AidData dari William and Mary yang dikutip AP (2026) mencatat China telah memberi hibah dan pinjaman untuk proyek terkait AI di sedikitnya 77 negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Nigeria, Zambia, Ghana, Bangladesh, dan Kenya.

Pendekatan open source membuat banyak negara bisa mengurangi ketergantungan pada teknologi AS. Pada September 2026, startup Arab Saudi Humain meluncurkan platform yang dibangun di atas model terbuka buatan perusahaan AI China, padahal kerajaan itu juga punya kesepakatan dengan Nvidia. Jepang, sekutu dekat AS, tetap memakai model China yang lebih murah untuk aplikasi berisiko rendah.

Singapura, yang sudah menjadi anggota Pax Silica, juga sedang mempertimbangkan bergabung dengan WAICO. "Setiap negara di dunia, dengan cara apa pun, sedang memikirkan kedaulatan AI," kata Aalok Mehta, Direktur Wadhwani AI Center di Center for Strategic and International Studies, kepada AP.

Peneliti Brookings Institution Kyle Chan menilai negara penentu atau swing countries justru punya posisi tawar yang makin kuat. Alasannya, Beijing butuh dukungan negara ketiga, sedangkan Washington sudah memiliki jaringan aliansi yang luas. Kedutaan Besar China di Washington menyatakan AI semestinya tidak dimiliki negara-negara besar saja.

Dampaknya bagi Indonesia dan Perusahaan Lokal

Indonesia memilih jalur dua kaki. Negara ini sudah menjadi anggota pendiri WAICO sejak Juli 2026, tetapi pemerintah ingin tetap terbuka pada blok AS. Bagi perusahaan Indonesia, posisi ini berarti akses ke model AI China dan AS masih terbuka, sekaligus risiko pembatasan jika tekanan Washington makin keras.

"Kita seharusnya bisa menjadi bagian dari keduanya, begitu saja. Dan memilih sistem yang terbaik," kata Mari Pangestu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, kepada AP. AP mencatat Indonesia memiliki cadangan nikel dan tembaga, dua bahan yang penting bagi rantai pasok teknologi dan menjadi bagian dari agenda mineral kritis Pax Silica.

Saat menghadiri pembentukan WAICO di Shanghai pada Juli 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut manfaat bergabung adalah memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam pengembangan AI, seperti dilaporkan ANTARA. Ia juga menegaskan AI harus menjadi jembatan kerja sama, bukan alat pemecah.

Bagi perusahaan dan pengembang di Indonesia, langkah praktisnya adalah tidak mengunci diri pada satu penyedia model. Arsitektur yang bisa berganti antara model AS, model China, dan model open source yang dijalankan sendiri akan lebih tahan terhadap perubahan aturan ekspor chip, sanksi, atau syarat keanggotaan blok yang bisa berubah dalam hitungan bulan.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.

🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.


Berita Terkait Geopolitik AI

🤝 Indonesia Resmi Gabung WAICO; Airlangga Teken di Shanghai

🚫 AS Sanksi MiraclePlus dan 4 Entitas China terkait Pencurian Rahasia AI Google

⚔️ Jensen Huang Peringatkan AS: China Bisa Menang Perang AI Lewat Open Source

🛡️ Aturan AI China 2026: UU Keamanan Siber dan Chatbot Pendamping untuk Bisnis Indonesia


Sumber dan Referensi

[1] As the US and China form AI blocs, countries are increasingly torn between them - Associated Press

[2] United States Welcomes Paraguay as Newest Pax Silica Signatory - U.S. Department of State

[3] Outcomes of the Second Pax Silica Summit - U.S. Department of State

[4] Indonesia joins WAICO as founding member to boost AI development - ANTARA News

[5] 29 countries join World AI Cooperation Organization in Shanghai - CGTN

[6] US wants to force partner countries to choose between Washington and Beijing in the AI race - The Decoder

    Blok AI AS dan China Makin Tajam; Indonesia Ingin Ikut Keduanya | Burung Hantu Infratek