AS Sanksi MiraclePlus dan 4 Entitas China terkait Pencurian Rahasia AI Google

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada lima entitas asal China yang terkait dengan Linwei Ding, mantan insinyur Google yang terbukti mencuri rahasia dagang teknologi AI. Sanksi yang diumumkan pada 19 Oktober 2026 itu menyasar perusahaan rintisan Shanghai Zhisuan Technology serta MiraclePlus, firma modal ventura asal Beijing, beserta tiga entitas turunannya. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Washington kini mengejar bukan hanya pelaku pencurian, tetapi juga investor yang mendanai perusahaan penerima teknologi curian.
Siapa Saja yang Kena Sanksi Pencurian Rahasia AI Google?
Lima entitas kena sanksi: Shanghai Zhisuan Technology, MiraclePlus (nama resminya Qiji Chuangtan Beijing Investment Management), dua dana ventura yang dikelola MiraclePlus, dan satu kemitraan yang dimiliki penuh oleh salah satu dana itu. Menurut lembar fakta Departemen Luar Negeri AS (19 Oktober 2026), semuanya berbasis di China.
Zhisuan didirikan Ding pada 2023 dan dipasarkan sebagai pembuat platform software untuk mempercepat beban kerja machine learning, termasuk pelatihan model super intelligence berskala besar di atas chip superkomputer. Departemen Luar Negeri AS menyebut Ding mendaftarkan Zhisuan ke program inkubasi MiraclePlus sambil menonjolkan pengetahuannya tentang teknologi dan sistem internal Google.
Dalam lembar fakta yang sama, Ding disebut mengklaim Zhisuan mampu mereplikasi teknologi infrastruktur super intelligence milik Google. MiraclePlus kemudian memberi modal awal dengan imbalan kepemilikan saham di Zhisuan. Dua dana yang ikut kena sanksi adalah Beijing Qiji Chuangtan Phase I (berdiri 2020) dan Phase II (berdiri 2022).
"This theft of trade secrets is a serious threat to U.S. economic, foreign policy, and national security interests," bunyi pernyataan pers yang dirilis atas nama Thomas "Tommy" Pigott, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS. Pernyataan itu juga menyebut pencurian rahasia dagang di bidang teknologi baru merugikan industri AS miliaran dolar setiap tahun.
Bagaimana Kasus Linwei Ding Bermula?
Kasus ini bermula dari Linwei Ding, insinyur software yang bergabung dengan Google pada Mei 2019. Menurut Reuters (29 Januari 2026), juri federal di San Francisco menyatakan Ding bersalah setelah persidangan 11 hari. Ia terbukti mencuri ribuan halaman informasi rahasia Google terkait teknologi pusat data superkomputer untuk melatih model AI besar.
Departemen Luar Negeri AS mencatat Ding divonis atas tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang pada 29 Januari 2026. Menurut Reuters, setiap dakwaan pencurian rahasia dagang di AS diancam hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda 250.000 dolar AS. Ding mulai mengambil data pada 2022, saat ia sedang direkrut sebuah perusahaan teknologi tahap awal di China.
Perjalanan kasusnya tidak mulus bagi jaksa. Menurut UPI (20 Oktober 2026), hakim belakangan membatalkan tujuh vonis spionase ekonomi terhadap Ding karena bukti dinilai tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia tahu tindakannya menguntungkan pemerintah China. Vonis pencurian rahasia dagang tetap berlaku, dan Ding dijatuhi hukuman 12 bulan kurang satu hari.
Menurut catatan pengadilan yang dikutip UPI, Ding ditangkap pada Maret 2024 di rumahnya di Newark, California. Pada Mei 2023, saat masih bekerja di Google dan tanpa sepengetahuan perusahaan, ia mendaftarkan Zhisuan ke program inkubasi MiraclePlus. Google sendiri tidak didakwa dalam perkara ini dan menyatakan bekerja sama dengan aparat penegak hukum.
Apa Isi Sanksi PAIPA yang Dijatuhkan?
Sanksi dijatuhkan berdasarkan Protecting American Intellectual Property Act of 2022 (PAIPA), tercatat sebagai 50 U.S.C. 1709 dan diteken pada Januari 2023. Undang-undang ini mewajibkan presiden AS menjatuhkan sanksi kepada pihak asing yang terlibat, mendanai, atau menikmati hasil pencurian rahasia dagang warga atau perusahaan AS.
Menurut pengumuman Office of Foreign Assets Control (OFAC) Departemen Keuangan AS pada 19 Oktober 2026, kelima entitas dimasukkan ke Non-SDN Menu-Based Sanctions List. Sanksinya mencakup lima pasal PAIPA, yaitu Section 2(b)(1)(A), (D), (H), (I), dan (J). Isinya pemblokiran aset, pembatasan pinjaman dari lembaga keuangan AS, larangan transaksi valuta asing, dan pembatasan transaksi perbankan.
Pasal terakhir melarang warga dan perusahaan AS membeli saham atau surat utang entitas yang disanksi. Bagi MiraclePlus, yang menurut Departemen Luar Negeri AS menggelar dua kamp startup setiap tahun untuk mempertemukan perusahaan rintisan dengan investor lain, larangan ini bisa mempersempit akses ke modal dan mitra dari Amerika Serikat.
OFAC juga menerbitkan General License 2 yang mengizinkan transaksi yang sedang berjalan dengan entitas yang diblokir untuk diselesaikan secara bertahap. Lembar fakta Departemen Luar Negeri AS menegaskan sanksi bisa dicabut lewat prosedur delisting. Menurut dokumen itu, tujuan akhir sanksi adalah mengubah perilaku, bukan sekadar menghukum.
Dampaknya bagi Perusahaan AI dan Investor di Indonesia
Kasus ini menunjukkan risiko pencurian rahasia dagang kini ikut menyeret investor. Menurut Departemen Luar Negeri AS (2026), MiraclePlus kena sanksi karena memberi dukungan finansial yang signifikan kepada perusahaan yang menikmati hasil pencurian. Artinya, uji tuntas atas asal-usul teknologi startup AI perlu dilakukan sebelum dana dikucurkan.
Bagi industri AI global, pesan Washington cukup jelas. Talenta yang pindah kerja membawa pengetahuan, tetapi membawa dokumen internal bekas kantor lama bisa berujung pidana dan sanksi lintas negara. Investor yang menyuntik dana ke perusahaan rintisan berbasis klaim "bisa meniru teknologi raksasa" juga perlu memeriksa dari mana klaim itu berasal.
Bagi perusahaan dan investor di Indonesia, payung hukumnya sudah ada lewat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Pasal 17 mengancam pelanggar dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak Rp300 juta, dan tindak pidananya merupakan delik aduan. Karena itu, startup AI lokal perlu merapikan perjanjian kerahasiaan karyawan, kontrol akses data, dan klausul asal-usul teknologi dalam setiap putaran pendanaan.
(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)
⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.
🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.
Berita Terkait Keamanan Teknologi AI
🛡️ Anthropic Tuduh 3 Lab AI China Curi Kemampuan Claude
⚔️ OpenAI Tuduh DeepSeek Curi Teknologi AI Amerika
🚫 Pemerintah AS Depak DeepSeek dari Seluruh Instansi Federal Sipil
💸 Chip AI Senilai $1 Miliar Diselundupkan ke China
Sumber dan Referensi
[1] Imposing Sanctions to Protect Americans from Intellectual Property Theft - U.S. Department of State
[4] U.S. sanctions 5 Chinese firms linked to convicted ex-Google engineer - UPI
[5] Ex-Google engineer convicted of stealing AI secrets for Chinese companies - Reuters
[6] Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang - JDIH BPK
