OpenAI Tuduh DeepSeek Curi Teknologi AI Amerika

OpenAI Tuduh DeepSeek Curi Teknologi AI Amerika

OpenAI Tuduh DeepSeek Curi Teknologi AI Amerika

Perang AI antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru yang menggemparkan. OpenAI resmi mengirim memo ke anggota kongres AS yang secara gamblang menuduh DeepSeek, startup AI asal China, melakukan pencurian intelektual melalui teknik distilasi model. Sam Altman menyebut praktik ini sebagai "free-riding" terhadap miliaran dolar investasi riset yang dikembangkan lab AI Amerika. Tuduhan ini mempertegas ketegangan geopolitik teknologi yang semakin memanas di awal 2026.


Memo Rahasia OpenAI ke Kongres Terbongkar

OpenAI mengirimkan memo resmi kepada House Select Committee on Strategic Competition between the United States and the Chinese Communist Party pada 12 Februari 2026. Dokumen yang ditinjau oleh Reuters dan Bloomberg ini mengungkap tuduhan serius terhadap DeepSeek yang dinilai secara sistematis mereplikasi kemampuan model-model frontier buatan AS.

Dalam memo tersebut, OpenAI mengklaim bahwa karyawan DeepSeek menggunakan router pihak ketiga dan metode lain untuk melewati batasan akses yang telah dipasang. Tujuannya jelas, yaitu mengekstrak output dari model ChatGPT untuk melatih generasi berikutnya dari chatbot R1 milik DeepSeek. OpenAI menyebut praktik ini sebagai "ongoing efforts to free-ride on the capabilities developed by OpenAI and other U.S. frontier labs."

Sam Altman, CEO OpenAI, menegaskan bahwa upaya pemblokiran yang telah dilakukan selama ini tidak berhasil menghentikan masalah sepenuhnya. Review internal OpenAI menunjukkan bahwa akun-akun yang terasosiasi dengan karyawan DeepSeek berusaha menyamarkan sumber akses mereka melalui server yang disamarkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, memo tersebut juga menyinggung potensi upaya DeepSeek untuk mengesampingkan fitur keamanan bawaan ChatGPT terkait pengembangan senjata kimia dan biologis. Tuduhan ini menambah dimensi keamanan nasional dalam perseteruan yang awalnya bersifat komersial.

Teknik Distilasi dan Implikasinya bagi Industri AI

Distilasi dalam konteks AI adalah teknik di mana model yang lebih besar dan mapan digunakan untuk mengevaluasi kualitas jawaban dari model yang lebih baru dan kecil. Proses ini secara efektif mentransfer "pembelajaran" dari model senior ke model junior, memungkinkan pengembang membangun sistem AI yang kompetitif tanpa harus menginvestasikan sumber daya riset yang setara.

Praktik ini menjadi kontroversial karena memungkinkan perusahaan seperti DeepSeek untuk menghasilkan model berkinerja tinggi dengan biaya yang jauh lebih murah. DeepSeek R1 yang dirilis Januari 2025 memang menggemparkan industri karena mampu menyamai performa model Barat terkemuka dengan anggaran yang hanya sepersekian dari biaya pengembangan model AS.

Rep. John Moolenaar, Ketua Komite China di DPR AS, merespons dengan keras dalam pernyataan resminya. "This is part of the CCP's playbook: steal, copy, and kill. Chinese companies will continue to distill and exploit American AI models to their advantage, just like when they ripped off OpenAI to build DeepSeek," tegasnya.

Menariknya, setahun lalu Sam Altman sendiri pernah memuji DeepSeek R1 sebagai "impressive" dan menyebutnya "legit invigorating to have a new competitor." Pergeseran nada dari apresiasi menjadi tuduhan pencurian intelektual ini menunjukkan betapa cepatnya dinamika persaingan AI global berubah.

Perang AI AS-China Memasuki Fase Baru

Tuduhan OpenAI ini tidak berdiri sendiri. Dalam satu tahun terakhir, ekosistem AI China berkembang pesat dengan pendekatan open-weight yang kontras dengan sistem tertutup yang dianut sebagian besar raksasa teknologi AS. Model-model open-source China menyebar dari Hugging Face hingga Silicon Valley, memaksa industri Barat untuk mempertanyakan strategi mereka.

Di sisi lain, gelombang baru model AI murah dari China terus bermunculan. ByteDance baru saja meluncurkan Seedance 2.0 untuk generasi video, DeepSeek sendiri tengah menyiapkan model generasi baru V4, dan Alibaba akan merilis Qwen 3.5. Bahkan chatbot Doubao milik ByteDance sudah memiliki 155,2 juta pengguna aktif mingguan.

Bagi AI integrator Indonesia dan pengembang solusi AI di tanah air, perseteruan ini memiliki implikasi langsung. Jika AS memperketat regulasi terhadap model AI China, akses terhadap alternatif AI yang lebih murah dan terbuka bisa terhambat. Di sisi lain, kompetisi yang semakin ketat antara kedua negara berpotensi mempercepat inovasi dan menurunkan biaya implementasi AI secara global.

DeepSeek dan Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan ini. OpenAI sendiri menolak berkomentar mengenai isi memo. Namun satu hal yang pasti, pertarungan teknologi AI antara AS dan China baru saja memasuki babak yang jauh lebih panas dari sebelumnya.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek. Mohon maaf apabila terdapat ketidakakuratan pada data aktual.


Berita Terkait OpenAI dan DeepSeek

🤖 DeepSeek V4 Siap Rilis Februari 2026: Monster Coding yang Diklaim Kalahkan Claude dan GPT

🔥 ChatGPT Tenggelam: Market Share Anjlok

China Tolak Nvidia H200 Meski Trump Sudah Izinkan Ekspor

💡 OpenAI Diam-Diam Luncurkan ChatGPT Translate: Penantang Google Translate dengan 50 Bahasa


Sumber dan Referensi

[1] OpenAI says China's DeepSeek trained its AI by distilling US models, memo shows - Reuters

[2] OpenAI Accuses China's DeepSeek of Distilling US AI Models to Gain an Edge - Bloomberg

[3] OpenAI accuses DeepSeek of "free-riding" on American R&D - Rest of World

[4] OpenAI Alleges China's DeepSeek Stole its Intellectual Property - FDD

[5] OpenAI accuses China's DeepSeek of stealing AI technology - Los Angeles Times

[6] What's next for Chinese open-source AI - MIT Technology Review

[7] Chinese AI Distillation - GlobalSecurity.org