Tanpa Swipe, AI Jodohkan Pasangan Lewat Wawancara Kepribadian

Tanpa Swipe, AI Jodohkan Pasangan Lewat Wawancara Kepribadian

Gelombang baru aplikasi kencan berbasis AI agentic menggemparkan industri dating global. AI integrator Indonesia mencatat tren revolusioner ini sebagai bukti bahwa agentic AI kini merambah kehidupan personal, bukan sekadar bisnis. Startup London bernama Fate memimpin revolusi dengan menghapus fitur swipe dan menggantinya dengan wawancara kepribadian mendalam oleh AI, sementara pengguna melaporkan pengalaman yang "mirip Black Mirror" namun efektif.


Fate, Aplikasi Kencan Agentic AI Pertama di Dunia

Jasmine, 28 tahun, sudah tiga tahun melajang ketika memutuskan mencoba aplikasi kencan berbasis AI bernama Fate. Sebelumnya, pengalaman di Hinge dan Tinder terasa monoton dengan percakapan yang berulang. "Aku pikir, kenapa tidak coba sesuatu yang berbeda? Kedengarannya keren pakai agentic AI, yang memang arah dunia sekarang kan?" ujarnya kepada The Guardian.

Fate adalah startup asal London yang diluncurkan Mei 2025 dan menyebut dirinya sebagai "aplikasi kencan agentic AI pertama di dunia". Fitur utamanya adalah AI bernama Fate yang melakukan wawancara mendalam kepada pengguna baru, menanyakan harapan dan perjuangan hidup mereka, lalu mengajukan lima calon pasangan potensial tanpa perlu swipe sama sekali.

Rakesh Naidu, pendiri Fate, menjelaskan bahwa aplikasi kencan konvensional memang tidak dirancang untuk berevolusi. "Model bisnis mereka bergantung pada perhatian pengguna, bukan hasil nyata. Memberikan koneksi bermakna di awal justru akan merusak model LTV/CAC mereka," tegasnya dalam pernyataan resmi.

Yang menarik, Fate juga menawarkan fitur coaching. AI akan membimbing pengguna selama interaksi dengan calon pasangan. Jasmine menyebut fitur ini sangat membantu, meski pengguna lain menggambarkannya sebagai "menakutkan" dan "mirip Black Mirror".

Three Day Rule dan Iris Ikut Ramaikan Persaingan

Fate bukan satu-satunya pemain di arena ini. Three Day Rule, layanan matchmaking premium asal Amerika yang sudah beroperasi selama 15 tahun, meluncurkan aplikasi AI bernama Tai. Aplikasi ini dibangun dari data ribuan sesi matchmaking nyata, termasuk alasan kenapa sebuah kencan berhasil atau gagal.

Adam Cohen-Aslatei, CEO Three Day Rule, menjelaskan bahwa Tai dirancang untuk meniru pengalaman menggunakan jasa matchmaker profesional. "Kami membangun AI di dalam Tai sehingga kepribadian matchmaker-nya menyesuaikan dengan kepribadian pengguna. Setiap orang yang masuk ke aplikasi akan mendapatkan pengalaman berbeda," ungkapnya kepada NBC Boston.

Namun, ulasan dari Wired mengungkap sisi lain. Semua match yang diterima reviewer ternyata membuka percakapan dengan kalimat pembuka identik yang dihasilkan AI. Alih-alih koneksi autentik, pengalaman tersebut justru menciptakan pertukaran yang terkesan naskah. Reviewer menyimpulkan bahwa tools AI dating berisiko menjadikan manusia sebagai "fasilitator untuk kisah cinta AI" ketimbang meningkatkan hubungan genuie.

Sementara itu, Iris Dating mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada daya tarik fisik. Aplikasi ini menggunakan AI untuk mempelajari preferensi wajah pengguna dan memprediksi ketertarikan timbal balik. Klaim mereka cukup mengejutkan. Rata-rata, perempuan menyukai hingga 55% profil yang direkomendasikan Iris, dan laki-laki hingga 85%.

Era Baru Integrasi AI di Kehidupan Personal

Tren AI dating apps ini bukan fenomena terisolasi. Pengembang solusi AI di Indonesia mencatat bahwa agentic AI kini melampaui batas penggunaan korporat dan mulai masuk ke ranah paling personal dalam kehidupan manusia. Jika sebelumnya AI agent dikenal untuk otomasi bisnis, coding, dan analisis data, kini teknologi yang sama digunakan untuk memahami kepribadian dan mencocokkan pasangan hidup.

Washington Post bahkan melaporkan bahwa profil kencan yang ditulis AI kini hampir tidak bisa dibedakan dari yang ditulis manusia. Studi dari University of California menemukan bahwa GPT-4.5 dinilai "lebih terdengar manusiawi" dibanding orang sungguhan. Ini menimbulkan dilema baru, yaitu ketika AI bisa merepresentasikan seseorang lebih baik dari dirinya sendiri.

Dengan 72% single di Amerika menyatakan ingin mencoba matchmaking profesional tapi hanya 1% yang benar-benar melakukannya, AI dating apps menjembatani gap ini dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Pertanyaannya tinggal satu. Apakah cinta yang dimediasi algoritma bisa terasa sama autentiknya dengan yang ditemukan secara organik?

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek. Mohon maaf apabila terdapat ketidakakuratan pada data aktual.


Berita Terkait AI dan Teknologi

🤖 ChatGPT Tenggelam: Market Share Anjlok

🔥 2026 Tahun Kematian Chatbot: Era AI Agent Dimulai dengan Claude Cowork

Gemini Personal Intelligence: AI yang Kenal Kamu Lewat Gmail, Photos, dan Google Apps Lainnya

💡 Microsoft Rilis Daftar 40 Pekerjaan yang Paling Terdampak AI

💕 Facebook Luncurkan AI Dating Assistant Lawan Tinder


Sumber dan Referensi

[1] No swiping involved: the AI dating apps promising to find your soulmate - The Guardian

[2] Fate Launches In London As The Worlds First Agentic AI-Powered Connection Platform - TechDogs

[3] Forget Hinge or Bumble. This App Promises a Personal AI Matchmaker - WIRED

[4] As AI changes matchmaking, some hope to find love in more traditional ways - NBC Boston

[5] AI changing how people connect on dating apps - Washington Post

[6] For Valentine's Day, I outsourced my dating life to AI - Quartz

[7] Three Day Rule Launches First-Ever Matchmaker-Trained AI Matchmaking App - Business Wire