Publik Dingin Terhadap AI Boom, Sam Altman Akui Lambat

New York Times mengungkap fakta mengejutkan bahwa antusiasme publik terhadap boom AI jauh lebih rendah dibandingkan era dot-com. Sam Altman sendiri mengakui penyebaran AI lebih lambat dari ekspektasi. Bagi AI integrator Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa adopsi teknologi AI membutuhkan pendekatan yang lebih membumi dibandingkan sekadar hype Silicon Valley.
Boom Tanpa Pelukan Publik
Artikel mendalam New York Times yang terbit 21 Februari 2026 membuka tabir tentang kontras tajam antara antusiasme industri teknologi dan sikap dingin publik terhadap revolusi AI. Berbeda dengan era dot-com di mana masyarakat umum ikut euforia, boom AI justru terasa seperti sesuatu yang "dipaksakan" kepada pengguna.
NYT menggambarkan bahwa boom-boom sebelumnya seperti California Gold Rush 1849 atau ledakan dot-com setidaknya menawarkan ilusi partisipasi publik. Siapa pun bisa pergi ke California dan mencoba keberuntungan. Namun memulai perusahaan AI membutuhkan keahlian khusus dan pendanaan serius. Bagi kebanyakan orang, AI justru menjadi sesuatu yang dipaksakan, mulai dari email hingga browser mereka.
Sam Altman, CEO OpenAI, sendiri mengakui bahwa AI menyebar lebih lambat dari yang diantisipasi. Pengakuan ini mengejutkan mengingat Altman selama ini menjadi salah satu pendukung paling vokal tentang potensi transformatif kecerdasan buatan. Jika pemimpin AI terbesar dunia saja mengakui adopsi lambat, ini menjadi alarm serius bagi seluruh industri.
Para pemimpin teknologi mulai khawatir apakah kurangnya antusiasme publik bisa menjadi pemicu runtuhnya valuasi AI yang sudah mencapai triliunan dolar. Tanpa adopsi massal yang nyata, investasi ratusan miliar dolar dalam infrastruktur AI bisa menjadi beban, bukan aset.
Mengapa AI Gagal Menular ke Publik
Berbeda dengan internet yang langsung mengubah cara orang berkomunikasi, berbelanja, dan mengakses informasi, dampak AI pada kehidupan sehari-hari masih terasa abstrak bagi banyak orang. Produk AI yang paling populer seperti ChatGPT memang digunakan puluhan juta orang, tapi penggunaannya belum setransformatif seperti yang dijanjikan.
AI integrator Indonesia dan pengembang solusi AI perlu mencermati fenomena ini dengan serius. Di Indonesia, tingkat adopsi AI memang sudah mencapai 92%, namun adopsi saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah penggunaan AI yang benar-benar mengubah produktivitas dan kehidupan sehari-hari pengguna.
Era dot-com berhasil karena produknya langsung terasa oleh konsumen. Email menggantikan surat, e-commerce menggantikan toko fisik, dan mesin pencari menggantikan ensiklopedia. AI belum menemukan "momen email" yang membuat semua orang tiba-tiba tidak bisa hidup tanpanya.
Perusahaan teknologi menghabiskan ratusan miliar dolar membangun infrastruktur AI, tapi belum berhasil menjawab pertanyaan paling fundamental dari publik, yaitu apa manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari mereka secara nyata dan terukur.
Pelajaran untuk Ekosistem AI Indonesia
Fenomena ini membawa pelajaran krusial bagi ekosistem teknologi Indonesia. Hype dan investasi masif tidak otomatis menghasilkan adopsi yang bermakna. Yang dibutuhkan adalah solusi AI yang menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar teknologi canggih yang mencari masalah.
Bagi pengembang solusi AI di Indonesia, ini justru bisa menjadi peluang. Sementara raksasa teknologi global sibuk dengan model bahasa raksasa dan infrastruktur miliaran dolar, pasar Indonesia membutuhkan solusi AI yang praktis, terjangkau, dan langsung berdampak pada produktivitas bisnis lokal.
Pertanyaan besar yang harus dijawab oleh seluruh industri AI global termasuk Indonesia adalah bagaimana mengubah adopsi tinggi menjadi penggunaan yang benar-benar transformatif. Jika pertanyaan ini tidak terjawab, risiko bubble burst yang dikhawatirkan para pemimpin teknologi bisa menjadi kenyataan.
(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)
⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek. Mohon maaf apabila terdapat ketidakakuratan pada data aktual.
🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.
Berita Terkait AI dan Industri
🤖 ChatGPT Tenggelam: Market Share Anjlok
⚡ 20 Ribu User Berontak Setelah OpenAI Pensiunkan GPT-4o
🔥 Microsoft Rilis Daftar 40 Pekerjaan yang Paling Terdampak AI
💡 52% Developer Game Anggap AI Merusak Industri Gaming
Sumber dan Referensi
[1] People Loved the Dot-Com Boom. The A.I. Boom, Not So Much - New York Times
[2] Why the A.I. Boom Is Unlike the Dot-Com Boom - New York Times
[3] OpenAI's Sam Altman says AI market is in a bubble - CNBC
[4] Sam Altman's AI paradox: Warning of a bubble while raising trillions - Fortune
[5] Are we in an AI bubble? Here's what analysts and experts are saying - CNBC
