Hampir Separuh Anak 9 sampai 12 Tahun Pakai Chatbot AI; JED Ingatkan Risiko

Common Sense Media merilis sensus terbarunya tentang penggunaan media oleh anak dan remaja Amerika Serikat, dan hasilnya menunjukkan chatbot AI sudah dipakai jauh sebelum usia minimal 13 tahun. Laporan yang terbit pada 27 Oktober 2026 itu mencatat 36 persen anak usia 9 tahun dan 73 persen anak usia 13 tahun pernah memakai chatbot. Pada pekan yang sama, The Jed Foundation (JED) menerbitkan riset terhadap lebih dari 5.500 siswa yang mengaitkan pemakaian AI saat tertekan dengan kondisi mental yang lebih buruk.
Berapa Banyak Anak yang Sudah Memakai Chatbot AI?
Menurut The 2026 Common Sense Media Census, hampir separuh anak Amerika Serikat usia 9 sampai 12 tahun pernah memakai chatbot atau AI companion. Angkanya 36 persen pada usia 9 tahun, 55 persen pada usia 11 tahun, dan 73 persen pada usia 13 tahun. Sensus ini melibatkan 1.211 responden berusia 9 sampai 17 tahun yang mewakili populasi nasional.
Temuan ini penting karena chatbot paling populer secara resmi mensyaratkan pengguna minimal berusia 13 tahun. Common Sense Media menilai pembatasan usia tersebut tidak berjalan di masyarakat umum. Polanya disebut mirip dengan media sosial, yang juga sudah ramai dipakai anak sebelum mencapai batas usia resmi platform.
Di seluruh kelompok responden, 65 persen pernah memakai AI di waktu luang, termasuk 77 persen remaja. Sebanyak 47 persen remaja dan 26 persen anak usia tween memakainya minimal sekali sepekan. Anak yang memakai AI sehari sebelum survei menghabiskan sekitar satu jam dengannya, dan durasi itu hampir sama antara kelompok tween dan remaja.
Sensus yang sama mencatat remaja menghabiskan sekitar delapan jam sehari untuk hiburan di layar, sementara anak usia tween sekitar lima jam. Lebih dari 4 dari 10 remaja bahkan menatap layar 10 jam atau lebih per hari. Ini sensus pertama Common Sense Media yang mengukur AI sebagai bagian dari kebiasaan media anak, lima tahun setelah edisi sebelumnya.
Dipakai Banyak Anak, tetapi Jarang Disukai
AI mencatat selisih terlebar antara pemakaian dan kesukaan dibanding jenis media layar lain dalam sensus Common Sense Media 2026. Meski 65 persen anak pernah memakainya, hanya 11 persen pengguna remaja dan 15 persen pengguna tween yang mengaku sangat menikmatinya. Anak tampaknya memperlakukan chatbot sebagai alat, bukan hiburan.
Saat diminta menyebut satu platform yang paling tidak bisa mereka tinggalkan, hanya 4 persen responden memilih ChatGPT, chatbot paling populer dalam survei tersebut. YouTube justru dipilih 66 persen anak usia tween dan 32 persen remaja. Bagi Common Sense Media, angka ini memberi dua kemungkinan penjelasan tentang posisi AI dalam keseharian anak.
Penjelasan pertama, anak memakai AI layaknya mesin pencari atau pengolah kata, sehingga wajar jika mereka tidak terlalu menyukainya. Penjelasan kedua, remaja merasa ambivalen terhadap kebiasaan memakai AI. Common Sense Media menyebut kemungkinan kedua ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, karena produk AI makin sering dipakai anak di luar kebutuhan belajar.
Temuan JED soal AI dan Kesehatan Mental Remaja
Riset The Jed Foundation 2026 terhadap lebih dari 5.500 siswa sekolah menengah menemukan 57 persen responden memakai AI saat merasa sedih, stres, kesepian, atau kewalahan. Siswa yang memakai AI untuk pertemanan atau saat sedang tertekan menunjukkan gejala kecemasan, depresi, dan kesepian yang lebih tinggi dibanding siswa lain.
Menurut laporan JED yang dikutip TNND, 58 persen siswa memakai AI untuk membantu tugas sekolah. Lebih dari seperempat memakainya untuk meminta saran hubungan atau pemecahan masalah, dan 12 persen memakainya sebagai teman. Hanya 8 persen yang secara khusus mencari bantuan untuk urusan perasaan ketika sedang mengalami masa sulit.
JED tidak menemukan kaitan antara pemakaian AI secara umum dan kondisi mental yang lebih buruk. Kaitan baru muncul pada pemakaian tertentu, seperti pertemanan dan dukungan emosional, yang juga berhubungan dengan riwayat pikiran bunuh diri yang lebih tinggi. "Humans are relational beings, right? And so, that human connection really matters," kata Kayla Anderson, Vice President of Research and Evaluation JED sekaligus penulis laporan.
Anderson menegaskan temuan ini menunjukkan asosiasi, bukan sebab akibat. Psikolog perkembangan Anne Maheux dari University of North Carolina at Chapel Hill, yang tidak terlibat dalam kedua survei, menyebut hubungan itu kemungkinan berjalan dua arah. Studi timnya yang akan terbit menemukan siswa SMP yang memakai chatbot sebagai teman justru makin kesepian seiring waktu.
Dampaknya bagi Platform AI dan Perusahaan di Indonesia
Dua laporan ini menunjukkan batas usia 13 tahun di chatbot AI belum efektif, sementara pemakaian untuk dukungan emosional berkaitan dengan risiko kesehatan mental. Bagi penyedia layanan AI, artinya fitur verifikasi usia, desain aman untuk anak, dan pengalihan ke bantuan manusia perlu dipikirkan sejak awal, bukan ditambal belakangan.
JED menekankan persoalan ini harus diselesaikan di tingkat sistem, dengan alat yang sejak awal dirancang aman. Di tingkat keluarga, Anderson menyarankan orang tua tidak membiarkan anak memakai AI sebagai teman atau pendamping. Ia juga meminta orang tua rutin membicarakan untuk apa anak memakai AI, agar urusan berpikir dan hubungan tetap terjadi di ruang manusia.
Bagi perusahaan di Indonesia yang membangun chatbot, aplikasi edukasi, atau layanan pelanggan berbasis AI, pengguna anak adalah kenyataan yang harus diantisipasi. Pemerintah sudah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang ditetapkan dan mulai berlaku pada 27 Maret 2025 serta berstatus berlaku menurut database peraturan BPK.
Sesuai judulnya, peraturan itu mengatur tata kelola penyelenggara sistem elektronik terkait pelindungan anak, jadi layanan digital yang dipakai anak perlu dicek kesesuaiannya. Pengembang lokal sebaiknya memetakan sejak tahap desain apakah produknya mungkin dipakai anak, lalu menyiapkan pembatasan usia, pengaturan bawaan yang aman, dan jalur rujukan ke layanan konseling manusia ketika percakapan menyentuh kondisi emosional pengguna.
(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)
⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.
🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.
Berita Terkait Chatbot AI
🧠 Chatbot AI Beresiko Memicu Krisis Kesehatan Mental
🛡️ Aturan AI China 2026: UU Keamanan Siber dan Chatbot Pendamping untuk Bisnis Indonesia
🚫 New York Usul Denda $525 untuk Chatbot AI yang Jebak Konsumen
💡 Mapel Koding dan AI di Sekolah: Isi Permendikdasmen 13/2025 dan Peluang bagi Perusahaan
Sumber dan Referensi
[1] Almost half of tweens have used an AI chatbot or companion, new research finds - Common Sense Media
[2] The 2026 Common Sense Media Census: Tech and Media Use by Tweens and Teens - Common Sense Media
[3] Teens often turn to AI when feeling distressed; report flags mental health risks - The National Desk
[4] Nearly 2 out of 3 teens and tweens use AI chatbots, new research shows - NPR Illinois
