Polisi Seoul Tangkap 7 Pelaku Peretasan Berbantu AI di 90 Organisasi

Polisi Seoul Tangkap 7 Pelaku Peretasan Berbantu AI di 90 Organisasi

Badan Kepolisian Metropolitan Seoul menangkap tujuh orang dalam kasus peretasan berskala besar berbantu AI pertama di Korea Selatan. Diumumkan pada 26 Oktober 2026, komplotan ini diduga membobol sekitar 90 organisasi dan mencuri 8,2 juta data selama 13 bulan, lalu memeras 38 korban senilai total 360 juta won. Kasus ini menunjukkan agen AI dan alat uji penetrasi otomatis kini membuat satu orang bisa menjalankan serangan yang dulu butuh satu kelompok peretas.

Bagaimana Komplotan Peretas Ini Memakai AI?

Menurut polisi Seoul (2026), otak komplotan memakai AI coding agent dan sistem uji penetrasi otonom berbasis AI untuk mempercepat pembobolan. Dengan alat itu, ia membobol 60 perusahaan hanya dalam rentang 31 Agustus sampai 13 Oktober 2026, jauh lebih cepat dibanding fase awal ketika ia masih menjalankan pemindai celah situs secara manual.

Pelaku utama berinisial A, laki-laki berusia 32 tahun, berlatar pendidikan seni dan olahraga tanpa gelar di bidang TI. Kepada penyidik, ia mengaku belajar meretas secara otodidak dari YouTube dan blog. Polisi menilai pengetahuannya cukup dalam karena ia pernah mengerjakan simulasi peretasan di sebuah perusahaan keamanan siber pada 2019 sampai 2022.

Polisi menyebut sistem uji penetrasi otonom yang dipakai A sama dengan alat yang muncul dalam kebocoran data sektor keuangan Korea baru-baru ini, meski hubungan kedua kasus belum terbukti. Decrypt, mengutip laporan media lokal, menyebut alat itu bernama Artex, perangkat uji penetrasi open source berbahasa Mandarin yang tersedia bebas di GitHub.

Korban dari Rumah Sakit hingga Anak Usaha Konglomerat

Sekitar 90 organisasi menjadi korban, mulai dari rumah sakit, lapangan golf, universitas, lembaga bimbingan belajar, penyedia jasa pemakaman, lembaga keuangan mikro daerah, hingga anak usaha konglomerat besar. Data yang dicuri mencapai 8,2 juta catatan berisi data pribadi dan dokumen internal perusahaan, menurut Seoul Economic Daily (2026).

Penyedia jasa pemakaman kehilangan 1,22 juta data, sedangkan data dari lembaga bimbingan belajar memuat informasi anak di bawah umur. Sejauh ini baru 15 organisasi yang resmi melapor kerugian. Polisi menyatakan seluruh data berisi informasi pribadi sudah berhasil diamankan kembali, termasuk dari laptop, ponsel sekali pakai, dan router nirkabel yang disita dari rumah A.

Setelah membobol sistem, A mengirim email ancaman ke 38 organisasi dan menuntut total 360 juta won agar data tidak disebar. Pemerasan itu sebagian besar gagal, satu-satunya pembayaran yang terkonfirmasi hanya 300.000 won. Saat korban menolak membayar, kaki tangannya menelepon dan mengirim pesan ke eksekutif serta karyawan perusahaan untuk menekan mereka.

Perekrutan Lewat Telegram dan Penyelidikan Berbantu AI

Komplotan merekrut anggota lewat unggahan Telegram yang menawarkan "kerja telepon sederhana" dengan bayaran 10.000 sampai 30.000 won per panggilan. Perekrutnya, B, laki-laki 24 tahun, juga menyiapkan akun yang dipakai dalam kejahatan. Anggota lain berusia 20-an sampai 50-an tahun dan bertugas menekan korban lewat telepon dan pesan singkat.

Penyelidikan dimulai pada Juni 2026 setelah satu organisasi korban melapor. Lima orang yang terlibat ancaman ditangkap pada Juli sampai September, B ditahan awal Oktober, lalu A ditangkap pada 15 Oktober 2026. A sudah dilimpahkan ke jaksa dalam status tahanan dengan dugaan pelanggaran UU Jaringan Informasi dan Komunikasi, pemerasan, serta percobaan pemerasan.

Polisi juga memakai AI. Alat analisis internal berbasis AI memeriksa sekitar 530.000 item bukti, termasuk catatan panggilan dan rekening, sehingga satu tim bisa menangkap tujuh tersangka dalam sekitar empat bulan. "Kejahatan yang memanfaatkan AI berkembang ke tingkat yang sulit dilawan hanya dengan metode penyelidikan yang ada," kata Oh Kyu-sik, Kepala Unit 2 Investigasi Kejahatan Siber Badan Kepolisian Metropolitan Seoul.

Dampaknya bagi Keamanan Data Perusahaan Indonesia

Kasus Seoul membuktikan alat uji penetrasi berbasis AI yang beredar bebas bisa mengubah satu peretas tanpa latar TI formal menjadi ancaman bagi puluhan organisasi sekaligus. Pola serangannya menyasar sektor yang jarang dianggap target utama, seperti bimbingan belajar, jasa pemakaman, dan lapangan golf, yang umumnya punya anggaran keamanan terbatas.

Gelombang ini bukan yang pertama. Pada awal Oktober 2026, Korea JoongAng Daily melaporkan tujuh lembaga keuangan Korea, termasuk Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank, mengalami kebocoran yang diduga berbantu AI. Di Shinhan saja, data sekitar 25.700 nasabah bocor, dan polisi menemukan jejak Artex pada alamat internet yang dipakai menyerang bank.

Oh Kyu-sik meminta perusahaan yang diretas tidak membayar tebusan dan segera melapor ke polisi. Pesan ini relevan karena pemerasan dalam kasus ini justru gagal ketika korban menolak membayar. Bagi tim keamanan, pelajarannya jelas: celah yang bisa ditemukan alat otomatis harus ditambal lebih dulu, idealnya dengan memakai AI untuk menguji sistem sendiri.

Bagi perusahaan di Indonesia, kasus ini sekaligus pengingat kewajiban hukum. Pasal 46 ayat (1) UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mewajibkan pengendali data memberi tahu subjek data dan lembaga secara tertulis paling lambat 3 x 24 jam setelah terjadi kegagalan pelindungan data. Pasal 57 mengatur sanksi administratif hingga denda maksimal 2 persen dari pendapatan tahunan.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)

Foto sampul: hyolee2, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.

🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.


Berita Terkait Keamanan AI

🛡️ File AGENTS.md di Folder Downloads Bisa Bajak Codex dan Claude Code

🔥 Bug KV Cache Cloudflare Bocorkan 155 Respons GLM-5.3 ke Pelanggan Lain

🤖 Cohere Temukan Model Qwen Alibaba Coba Unggah File ke Server Beijing

⚡ Modul Chat AI Robot Unitree Go2 Bercelah Kritis 9,6; Pemilik Diminta Update


Sumber dan Referensi

[1] Self-Taught Hacker Used AI to Steal 8.2 Million Records, Police Say - Seoul Economic Daily

[2] Seven arrested in Korea over AI-assisted hacking of 90 organizations - Korea JoongAng Daily

[3] South Korea Arrests Seven in First Big AI-Assisted Hacking Case - Decrypt

[4] AI-driven hacks on banks leave customers fearing their data is fair game - Korea JoongAng Daily

[5] UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi - JDIH BPK

    Polisi Seoul Tangkap 7 Pelaku Peretasan Berbantu AI di 90 Organisasi | Burung Hantu Infratek