ITU Peringatkan Kesenjangan AI Bisa Jadi Kesenjangan Peluang

ITU Peringatkan Kesenjangan AI Bisa Jadi Kesenjangan Peluang

Wakil Sekretaris Jenderal International Telecommunication Union (ITU), Tomas Lamanauskas, memperingatkan bahwa kesenjangan akses kecerdasan buatan bisa berubah menjadi kesenjangan peluang ekonomi antarnegara. Peringatan itu ia sampaikan pada Minggu, 25 Oktober 2026, di World Investment Forum UNCTAD di Doha, Qatar, saat data PBB menunjukkan Afrika dan Amerika Latin hanya memegang 3,3 persen kapasitas data center dunia. Isu ini penting karena AI kini menjadi tujuan utama investasi strategis global, sementara negara berkembang justru tertinggal dalam infrastruktur, keterampilan, dan modal.

Apa Peringatan ITU soal Kesenjangan AI?

ITU menilai kesenjangan AI lebih berbahaya daripada kesenjangan digital biasa. Menurut Tomas Lamanauskas, negara dan pekerja yang tidak punya akses ke AI akan kehilangan produktivitas dan kesempatan kerja, sehingga jurang sosial ekonomi antarnegara bisa makin dalam. Ia menyampaikannya di World Investment Forum 2026 di Doha pada 25 Oktober 2026.

"Menurut saya, kesenjangan AI benar-benar menjadi kekhawatiran besar karena ini bukan sekadar soal kesenjangan digital," kata Lamanauskas, Wakil Sekretaris Jenderal ITU, seperti dikutip Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa jurang yang besar bisa berarti kesenjangan peluang dan memperdalam kesenjangan sosial ekonomi yang sudah ada.

Lamanauskas menjabat Wakil Sekretaris Jenderal ITU, badan PBB untuk teknologi informasi dan komunikasi, sejak 1 Januari 2023. Dalam wawancara itu ia menegaskan bahwa perbedaan tingkat adopsi AI antarnegara akan memengaruhi kemampuan pekerja untuk tetap produktif dan bersaing di pasar kerja.

Ia juga menolak anggapan bahwa AI bisa dikuasai satu pihak saja. "AI bukan teknologi yang bisa dikendalikan oleh satu orang, satu organisasi, atau satu perusahaan," ujarnya. Jalan keluarnya, menurut Lamanauskas, adalah investasi yang memastikan manfaat AI dirasakan semua orang, bukan hanya negara yang sudah kaya infrastruktur.

Seberapa Lebar Jurang Infrastruktur dan Pemakaian AI?

Jurangnya lebar di tiga lapis sekaligus, yaitu infrastruktur, koneksi internet, dan pemakaian AI. Data yang dikutip Al Jazeera menunjukkan 2,2 miliar orang di dunia belum punya akses internet, sementara pemakaian AI generatif di negara maju hampir dua kali lipat dibanding negara berkembang.

Dari sisi fisik, Afrika dan Amerika Latin bersama-sama hanya memegang 3,3 persen kapasitas data center global. Menutup kesenjangan infrastruktur digital diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 2,8 triliun dolar AS hingga 2030. Angka ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar teknologi, tetapi juga pendanaan jangka panjang.

Dari sisi pemakaian, sekitar 29 persen penduduk usia kerja di negara maju sudah memakai AI generatif, dibanding 16 persen di negara berkembang. Bahasa juga menjadi penghalang, karena hanya 7 persen bahasa Afrika yang terwakili di alat terjemahan AI. Akibatnya, jutaan orang sulit memakai layanan AI dalam bahasa ibunya sendiri.

International AI Safety Report 2026, yang diterbitkan 3 Februari 2026 oleh lebih dari 100 pakar independen di bawah pimpinan Yoshua Bengio, memperkirakan sekitar satu miliar orang sudah memakai AI. Laporan yang dikutip Al Jazeera itu juga menyebut sekitar 60 persen pekerjaan di negara maju dan 40 persen di negara berkembang bisa terpapar dampak AI.

Investasi AI Makin Terpusat di Negara Kaya

Data UNCTAD yang dirilis 25 Oktober 2026 menunjukkan modal AI mengalir terutama ke negara maju. Sektor terkait AI menyumbang lebih dari 40 persen nilai investasi greenfield yang diumumkan di Amerika Serikat, sementara nilai investasi data center baru di negara berkembang justru turun 32 miliar dolar AS.

Laporan Global Investment Trends Monitor UNCTAD mencatat arus investasi asing langsung (FDI) ke negara maju naik lebih dari 70 persen pada semester pertama 2026 dibanding rata-rata per semester 2025. Arus ke negara berkembang hanya naik 8 persen, dan pengumuman proyek baru di sana turun lebih dari seperlima.

UNCTAD menilai penurunan investasi data center di negara berkembang menandakan infrastruktur digital makin terkonsentrasi di negara berpendapatan tinggi. World Investment Report 2026 juga mencatat lebih dari 80 persen FDI global pada 2025 hanya mengalir ke 20 negara. Pola ini sejalan dengan kekhawatiran Lamanauskas soal kesenjangan peluang.

Untuk pertama kalinya, World Investment Forum yang berlangsung 25 sampai 27 Oktober 2026 memiliki jalur khusus tentang AI. Forum edisi kesembilan dengan tema "Investing in the future" ini menghadirkan lebih dari 5.000 peserta, lebih dari 80 sesi, dan lebih dari 400 pembicara. Fokusnya adalah cara agar negara berkembang ikut menikmati investasi infrastruktur AI, bukan makin tertinggal.

Dampak Kesenjangan AI bagi Indonesia

Bagi Indonesia, peringatan ini relevan karena Asia Pasifik adalah pusat pengguna AI dunia, tetapi investasi infrastrukturnya belum merata. Laporan UNDP Desember 2025 menyebut kawasan ini menampung lebih dari separuh pengguna AI global, sehingga posisi Indonesia ditentukan oleh seberapa cepat infrastruktur dan keterampilan dibangun.

Laporan UNDP berjudul "The Next Great Divergence" yang terbit 2 Desember 2025 memperkirakan AI bisa menambah pertumbuhan PDB tahunan Asia Pasifik sekitar 2 poin persentase. Ekonomi ASEAN berpotensi mendapat tambahan PDB hampir 1 triliun dolar AS dalam satu dekade. "Kami melihat AI menandai era baru meningkatnya ketimpangan antarnegara," kata Philip Schellekens, Kepala Ekonom Biro Regional Asia Pasifik UNDP.

Bagi perusahaan dan pemerintah di Indonesia, ada dua pekerjaan rumah. Turunnya investasi data center di negara berkembang berarti Indonesia perlu bersaing lebih keras untuk menarik modal infrastruktur AI. Di saat yang sama, perusahaan lokal perlu mempercepat pelatihan karyawan dan adopsi AI yang memahami bahasa Indonesia, agar tidak masuk ke sisi yang kalah dari kesenjangan peluang.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.

🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.


Berita Terkait Kesenjangan AI

⚔️ Blok AI AS dan China Makin Tajam; Indonesia Ingin Ikut Keduanya

⚡ Listrik Data Center AI: Membaca Laporan IEA 2026 untuk Perusahaan Indonesia

💸 SpaceX Kunci Utang $40 Miliar untuk GPU; Musk Ramal Neocloud Bertumbangan

🛡️ RUU Tata Kelola AI Malaysia: Tiga Tingkat Risiko dan Dampaknya bagi Bisnis Indonesia


Sumber dan Referensi

[1] AI's 'opportunity divide' could deepen global inequality, UN official warns - Al Jazeera

[2] World Investment Forum 2026 opens in Qatar - UNCTAD

[3] Global investment rises as new projects decline, UNCTAD report finds - UNCTAD

[4] Deputy Secretary-General - ITU

[5] AI threatens to widen inequality among states: UN - Al Jazeera

[6] International AI Safety Report - International AI Safety Report

    ITU Peringatkan Kesenjangan AI Bisa Jadi Kesenjangan Peluang | Burung Hantu Infratek