Anwar Umumkan Investasi AI $50 Miliar; Bloomberg Sebut Investornya SoftBank

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan seorang investor global berencana menanamkan 50 miliar dolar AS di sektor kecerdasan buatan, teknologi baru, dan data center di Sarawak serta Semenanjung Malaysia. Anwar menyampaikannya di Melaka pada 24 Oktober 2026, dan Bloomberg kemudian melaporkan investor tersebut adalah Masayoshi Son, Chairman dan CEO SoftBank Group. Bila terwujud, nilai itu setara sekitar 204 miliar ringgit dan menjadi salah satu komitmen infrastruktur AI terbesar di Asia Tenggara.
Apa yang Diumumkan Anwar Ibrahim di Melaka?
Anwar Ibrahim mengatakan seorang investor terbesar dunia memilih Kuching di Sarawak dan sejumlah lokasi di Semenanjung Malaysia untuk investasi senilai 50 miliar dolar AS. Rencana itu, menurut Anwar, disampaikan lewat konferensi video dan menyasar tiga sektor, yaitu AI, teknologi baru, dan data center.
Pernyataan itu muncul dalam Program Sentuhan Kasih MADANI sekaligus peluncuran National Cost of Living Action Plan 2030 di Kompleks Olahraga Hang Jebat, Melaka, Sabtu, 24 Oktober 2026. Kantor berita Bernama mengonversi nilainya dengan kurs 1 dolar AS setara 4,08 ringgit, sehingga totalnya sekitar 204,3 miliar ringgit.
"Selasa lalu, salah satu investor terbesar di dunia mengadakan konferensi video dengan saya. Investor itu mengatakan ia telah memilih Kuching, Sarawak, dan Semenanjung Malaysia untuk investasi senilai 50 miliar dolar AS, salah satu investasi terbesar di kawasan ini," kata Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, seperti dikutip Bernama.
Anwar tidak menyebut nama investor dalam pidatonya. Bloomberg, yang dikutip CNBC dan Taipei Times, melaporkan investor itu adalah Masayoshi Son. Sampai 26 Oktober 2026, SoftBank belum memberi pernyataan resmi soal angka maupun lokasi, dan CNBC menulis perusahaan itu tidak langsung menanggapi permintaan komentar.
Kaitan dengan Kesepakatan SoftBank, Grab, dan PETROS di Sarawak
Pengumuman Anwar menyusul kesepakatan kerangka yang ditandatangani SoftBank Group, Grab Holdings, dan Petroleum Sarawak Berhad (PETROS) di Kuching pada 8 Oktober 2026. Kesepakatan itu bertujuan menjajaki pembangunan platform AI dan infrastruktur digital di Sarawak secara bertahap.
Menurut siaran pers bersama ketiga perusahaan, dokumen itu ditandatangani Masayoshi Son, Anthony Tan selaku Group Chairman, CEO, dan salah satu pendiri Grab, serta Dato Janin Girie selaku Group CEO PETROS. Penandatanganan disaksikan Premier Sarawak, Datuk Patinggi Tan Sri (Dr) Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg.
Pembagian perannya cukup jelas. SoftBank membawa ekosistem AI global, mulai dari infrastruktur AI, komputasi canggih, semikonduktor, hingga physical AI. Grab menyumbang ekosistem digital Asia Tenggara dan kemampuan applied AI. PETROS menyediakan pasokan energi lewat Sarawak Gas Roadmap dan perannya sebagai Master Developer Kuching Low-Carbon Hub.
Kesepakatan kerangka itu belum mengikat. Siaran pers menegaskan perjanjian tidak mewajibkan para pihak masuk ke perjanjian definitif atau menjalankan proyek. Risiko yang disebut antara lain uji tuntas, izin pemerintah, pendanaan, ketersediaan lahan, listrik yang andal dengan harga bersaing, konektivitas, serta kepastian permintaan pelanggan.
Malaysia Makin Padat Investasi Data Center AI
Malaysia sudah menjadi tujuan utama investasi data center di Asia Tenggara. Menurut Malaysian Investment Development Authority (MIDA, 2026), investasi terkait data center di negara itu mencapai 385,7 miliar ringgit atau sekitar 94 miliar dolar AS sejak 2021 hingga semester pertama 2026.
Raksasa teknologi AS lebih dulu masuk. CNBC mencatat Google mengumumkan investasi 2 miliar dolar AS pada 2024 untuk data center dan cloud region pertamanya di Malaysia, Amazon Web Services berencana menanam 6,2 miliar dolar AS hingga 2038, dan Microsoft mengumumkan 2,2 miliar dolar AS untuk cloud dan AI.
Bagi SoftBank, Malaysia akan menambah daftar proyek infrastruktur AI berskala besar. Menurut Bloomberg, grup itu sedang menggarap proyek data center senilai 500 miliar dolar AS di Ohio, Amerika Serikat, serta proyek di Prancis yang nilainya bisa mencapai 75 miliar euro atau sekitar 84 miliar dolar AS.
Pemerintah Malaysia sendiri menargetkan status "negara AI" pada 2030. Anwar menyebut Malaysia perlu memperkuat kemampuan di AI, digitalisasi, dan semikonduktor, sekaligus melatih tenaga kerja agar bisa naik dari aktivitas back-end ke segmen tengah dan depan rantai teknologi yang bernilai tambah lebih tinggi.
Dampaknya bagi Kawasan dan Indonesia
Jika terealisasi, rencana 50 miliar dolar AS ini memperkuat posisi Malaysia sebagai pusat infrastruktur AI Asia Tenggara. Dampaknya terasa pada persaingan menarik modal, pasokan listrik, dan talenta, karena investor data center memilih lokasi berdasarkan energi murah, lahan, konektivitas, serta kepastian regulasi.
Anwar menekankan bahwa kepercayaan investor bergantung pada stabilitas politik. "Jika rakyat tidak percaya pada pemerintah ini, dan jika pemimpinnya terus bertengkar, investor tidak akan tertarik datang ke sini," katanya. Pesan itu menegaskan stabilitas politik dan kepastian kebijakan ikut menentukan ke mana modal infrastruktur AI mengalir.
Masih banyak yang belum jelas. Belum ada jadwal pembangunan, kapasitas daya dalam megawatt, pemasok chip, maupun struktur pendanaan yang diumumkan. Angka 50 miliar dolar AS juga baru bersumber dari pernyataan Perdana Menteri, sehingga pelaku pasar sebaiknya menunggu konfirmasi resmi SoftBank sebelum menghitungnya sebagai komitmen pasti.
Bagi perusahaan dan pemerintah Indonesia, langkah ini menjadi sinyal persaingan yang nyata. Grab, salah satu mitra proyek Sarawak, juga beroperasi luas di Indonesia, termasuk lewat Superbank. Jika kapasitas komputasi AI regional menumpuk di Malaysia, perusahaan Indonesia mungkin makin banyak menyewa layanan dari seberang perbatasan, sehingga isu kedaulatan data, latensi, dan kesiapan listrik hijau di dalam negeri perlu dikejar lebih cepat.
(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)
⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.
🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.
Berita Terkait SoftBank
💸 SoftBank Bertaruh Besar Pada AI, Masa Depan Perusahaan di Ujung Tanduk
📉 SoftBank Lepas Nvidia Senilai $5,8 Miliar untuk OpenAI
⚡ Listrik Data Center AI: Membaca Laporan IEA 2026 untuk Perusahaan Indonesia
🛡️ RUU Tata Kelola AI Malaysia: Tiga Tingkat Risiko dan Dampaknya bagi Bisnis Indonesia
Sumber dan Referensi
[1] Global Investor Chooses Malaysia For US$50 Bln Investment In Tech Sector - BernamaBiz
[3] SoftBank reportedly plans $50 billion tech investment in aspiring 'AI nation' Malaysia - CNBC
[4] Masayoshi plans Malaysia outlay - Taipei Times
[5] Anwar says a global investor plans US$50b tech investment in Malaysia - The Edge Malaysia
[6] SoftBank plans $50bn AI investment in Malaysia, PM says - Nikkei Asia
