Gartner Ungkap Hanya 13 Persen CIO Rasakan Nilai Besar dari AI

Gartner Ungkap Hanya 13 Persen CIO Rasakan Nilai Besar dari AI

Gartner mengungkap hanya 13 persen CIO yang mengaku perusahaannya sudah meraih nilai signifikan atau transformasional dari kecerdasan buatan. Temuan itu diumumkan pada 19 Oktober 2026 di Gartner IT Symposium/Xpo, Orlando, berdasarkan survei terhadap 2.002 CIO dan eksekutif teknologi. Angka ini muncul ketika belanja AI terus naik dan agentic AI mulai masuk produksi, sehingga jarak antara investasi dan hasil nyata makin sulit diabaikan oleh direksi.

Berapa Banyak Perusahaan yang Benar-Benar Dapat Nilai dari AI?

Menurut survei Gartner 2027 CIO and Technology Executive Agenda (2026), hanya 13 persen CIO melaporkan perusahaannya sudah memperoleh nilai signifikan atau transformasional dari AI. Peluang sebuah use case AI berhasil juga masih satu banding lima, walaupun jumlah use case melonjak dalam dua tahun terakhir.

Survei itu melibatkan 2.002 CIO dan eksekutif teknologi dan berlangsung dari Mei sampai Juli 2026. Hasilnya dipaparkan pada hari pertama Gartner IT Symposium/Xpo di Orlando, Florida, acara yang berlangsung hingga Kamis, 22 Oktober 2026. Menurut Gartner, sesi pembuka acara itu dihadiri lebih dari 7.500 CIO dan eksekutif TI.

"Volume bukanlah nilai. AI sedang menjadi momen perhitungan bagi organisasi yang tidak punya disiplin dasar, seperti menetapkan nilai use case sejak awal dan menentukan kriteria kapan harus mundur," kata Alicia Mullery, VP Analyst Gartner, dalam paparannya di Orlando.

Laporan CIO Dive dari keynote yang sama mencatat belanja AI para pemimpin teknologi kini 18 kali lipat dibanding dua tahun lalu, sementara jumlah use case AI naik 400 persen dalam setahun. Di sisi lain, hanya 16 persen perusahaan melaporkan kenaikan produktivitas. Polanya jelas: proyek bertambah banyak, tetapi hasil yang bisa dibuktikan belum ikut naik.

Aturan Berhenti, Kebiasaan yang Membedakan Kelompok Vanguard

Gartner (2026) menyebut kelompok CIO berkinerja terbaik sebagai vanguard. Pembeda utamanya adalah aturan berhenti yang jelas di dua titik, yaitu saat pilot dan saat produksi. Perusahaan dengan aturan kapan pilot tidak boleh lanjut ke produksi 2,3 kali lebih mungkin masuk kelompok vanguard.

Perusahaan yang punya pedoman untuk menghentikan inisiatif AI bernilai rendah yang sudah berjalan di produksi bahkan 2,6 kali lebih mungkin menjadi vanguard. Masalahnya, praktik ini masih jarang. Hanya 31 persen CIO yang punya aturan berhenti di tahap pilot, dan hanya 17 persen yang punya aturan berhenti di tahap produksi.

Tekanan biaya juga ikut membesar. Sebanyak 58 persen CIO mengaku mendapat tekanan lebih besar untuk menunjukkan penghematan dari AI, sementara 51 persen memperkirakan AI justru menaikkan total biaya kepemilikan solusi teknologi. Mullery menjelaskan bahwa biaya AI bersifat probabilistik dan baru ditentukan saat sistem berjalan, berbeda dengan biaya cloud atau SaaS yang relatif bisa diprediksi.

Soal tenaga kerja, perusahaan yang punya rencana eksplisit mendesain ulang peran untuk kolaborasi manusia dan agen AI 2,4 kali lebih mungkin menjadi vanguard. Namun hanya 4 persen CIO yang sudah punya rencana itu. Gartner juga mencatat 40 persen responden memperkirakan jumlah staf TI naik pada 2027, terutama di bidang keamanan siber serta data dan analitik.

Kenapa Risiko AI Tumbuh Lebih Cepat dari Nilainya?

Gartner (2026) menyatakan risiko AI kini tumbuh lebih cepat daripada nilainya karena adopsi agentic AI melaju lebih cepat dari tata kelolanya. Survei kuartal II 2026 terhadap lebih dari 2.000 CIO menemukan 71 persen perusahaan berencana memakai agentic AI dalam 12 bulan, tetapi hanya 21 persen yang punya tata kelolanya.

Survei lain pada kuartal III 2026 terhadap 303 CIO dan pemimpin manajemen risiko TI menunjukkan hanya 25 persen CIO yang sudah menyelaraskan risiko teknologi dengan risiko bisnis. "Keharusan baru bagi CIO adalah menyelaraskan nilai dengan risiko, dan menyelaraskan keselamatan dengan tata kelola," kata Daryl Plummer, VP, Distinguished Analyst, dan Gartner Fellow.

Sebagai jalan keluar, Gartner memperkenalkan Value-Risk Flywheel untuk memetakan nilai dan risiko yang sama-sama berlipat ganda. Gartner juga menyarankan pembentukan AI Central Bank, yaitu lapisan kendali virtual untuk keputusan AI di seluruh perusahaan. Menurut Kristin Moyer, VP, Distinguished Analyst, dan Gartner Fellow, konsep ini soal penyelarasan dan koordinasi, bukan sentralisasi.

Laporan InformationWeek dari acara yang sama mencatat baru 1 persen CIO yang membeli asuransi AI, sementara 34 persen sedang mempertimbangkannya. Moyer juga mengingatkan bahwa hambatan terbesar momentum AI adalah memakai AI ketika sebenarnya tidak dibutuhkan, dan menyarankan agen AI hanya dipakai saat pekerjaan memang butuh otonomi, bukan sekadar otomatisasi.

Apa Artinya bagi Perusahaan di Indonesia?

Bagi perusahaan di Indonesia, temuan Gartner (2026) berarti proyek AI perlu diukur dari hasil bisnis, bukan dari jumlah pilot. Langkah praktisnya adalah menetapkan target nilai sebelum proyek dimulai, menyiapkan aturan berhenti di tahap pilot dan produksi, lalu membangun tata kelola sebelum agen AI diberi akses ke sistem inti.

Pesan Plummer di keynote itu cukup lugas. "Hentikan konsumsi yang sembrono dan mulailah pengembangan berbasis hasil," katanya seperti dikutip CIO Dive. Untuk perusahaan yang anggaran TI-nya terbatas, pesan ini relevan karena biaya token dan infrastruktur AI bisa membengkak tanpa terasa ketika use case dibiarkan berjalan tanpa evaluasi berkala.

Dari sisi aturan, rujukan etika AI yang tercatat di JDIH Komdigi masih Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial, yang ditetapkan pada 19 Desember 2023. Pemrosesan data pelanggan oleh sistem AI juga wajib tunduk pada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, yang berlaku sejak 17 Oktober 2022.

Artinya, tata kelola agentic AI di Indonesia tidak cukup berhenti pada kebijakan internal. Perusahaan perlu mencatat data apa yang diakses agen, siapa yang bertanggung jawab atas keputusannya, dan kapan proyek dihentikan. Organisasi yang menyiapkan tiga hal itu sejak awal punya peluang lebih besar masuk ke kelompok 13 persen yang benar-benar merasakan nilai AI.

(Burung Hantu Infratek / Berbagai Sumber)


⚠️ Berita ini seluruhnya diriset, ditulis, dan dikembangkan dengan bantuan AI internal Burung Hantu Infratek.

🦉 Burung Hantu Infratek adalah software house dan system integrator yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam pengembangan dan implementasi generative AI pada berbagai perusahaan dan institusi.


Berita Terkait AI Perusahaan

💸 Menghitung Biaya AI untuk Perusahaan: Token, Harga Model, dan Cara Hemat

🛡️ Microsoft Anggap Agen AI Ancaman Orang Dalam; Siapkan Guardian Agents

🤖 Jam Kerja Agen AI di Anthropic Kini 6 Kali Lipat Karyawannya

📊 UE Terbitkan EN 18286; Standar Harmonisasi Pertama untuk AI Act


Sumber dan Referensi

[1] Gartner Survey Finds Only 13% of CIOs Say Their Enterprise Has Realized Significant or Transformational Value from AI - Gartner

[2] Gartner Says AI Risk is Rising Faster Than AI Value - Gartner

[3] AI risks, value remain unaligned for CIOs - CIO Dive

[4] Gartner: CIOs must balance AI value with risk, and fast - InformationWeek

[5] LIVE From Gartner: Enterprise AI Is Entering Its Hardest Chapter Yet - The National CIO Review

[6] Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial - JDIH Komdigi

[7] UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi - JDIH BPK

    Gartner Ungkap Hanya 13 Persen CIO Rasakan Nilai Besar dari AI | Burung Hantu Infratek